Selasa, 06 Desember 2011

BAGAIMANA MENDETEKSI TUMBUH KEMBANG ANAK??



PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

1.          Pokok Pengertian Tentang Proses Tumbuh Kembang Anak.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi pada setiap mahluk. Pada manusia terutama kanak-kanak, proses tumbuh kembang ini terjadi dengan sangat cepat, terutama pada periode tertentu.
Pertumbuhan dan perkembangan setiap anak berlangsung menurut prinsip-prinsip yang umum, namun demikian setiap anak memiliki ciri khas yang tersendiri.
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sejak dalam kandungan. Setiap organ dan fungsinya mempunyai kecepatan tumbuh yang berbeda-beda.
Pertumbuhan yang terjadi pada seseorang tidak hanya meliputi apa yang terlihat seperti perubahan fisik, tetapi juga perubahan dan perkembangan dalam segi lain seperti berfikir, berperasaan, bertingkah laku dan lain-lain.
Perkembangan yang dialami anak merupakan rangkaian perubahan yang teratur dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya yang berlaku secara umum, misalnya : anak berdiri dengan satu kakim berjingkat (berjinjit), berjalan menaiki tangga, berlari dan seterusnya.
 
2.          Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
Masa lima tahun pertama merupakan masa terbentuknya dasar-dasar kepribadian manusia, kemampuan penginderaan, berfikir, keterampilan berbahasa dan berbicara, bertingkah laku sosial dan lain-lainnya.
Ada 2 faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang optimal seorang anak, yaitu :
                    Faktor Dalam
Yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri baik faktor bawaan maupun faktor yang diperoleh, termasuk di sini antara lain :
(1)    Hal-hal yang diturunkan dari orang tua, kakek-nenek atau generasi sebelumnya.
Misalnya : warna rambut, bentuk tubuh.
(2)    Unsur berfikir dan kemampuan intelektual.
Misalnya : kecepatan berfikir.
(3)    Keadaan kelenjar zat-zat dala, tubuh.
Misalnya : kekurangan hormon yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembang  anak.
(4)    Emosi dan sifat-sifat (temperamen) tertentu.
Misalnya : pemilu, pemarah, tertutup, dan lain-lain.

                    Faktor Luar
Termasuk di sini antara lain :
(1)   Keluarga.
Sikap dan kebiasaan keluarga dalam mengasuh dan mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, hubungan antara saudara, dan lain-lain.
Keluarga keluarga tersebut meliputi :
(1.1)         Umur ibu kurang dari 20 tahun
(1.2)         Jumlah anak usia di bawah 3 tahun (batita) 2 atau lebih.
(1.3)         Ibu/pengasuh anak tahu mengenai kebutuhan anak dan sulit menerima pesan-pesan kesehatan, yang ditandai antara lain oleh hal-hal sebagai berikut :
a.   tidak tahu mengenal hal-hal umum yang diketahui masyarakat.
b.  Tidak dapat memahami petunjuk kesehatan yang sederhana.
c.   Tidak dapat menjawab pertanyaan yang biasanya dapat dijawab para ibu mengenai anaknya.
(1.4)         Ibu/pengasuh anak menderita gangguan mental atau tekanan jiwa yang berat, yang ditandai antara lain oleh hal-hal sebagai berikut :
a.       tampak putus asa, tidak mempunyai harapan mudah menangis.
b.      Bereaksi sangat lambat, tampak sangat kelahan dan tidak acuh pada keadaan sekitarnya.
c.       Perilaku yang aneh seperti berbicara tidak menentu atau berbicara / tertawa sendiri, gelisah sekali, mondar-mandir tanpa tujuan.
(1.5)         Ibu/pengasuh anak mengabaikan atau tak acuh terhadap kesejahteraan / perkembangan anak, yang ditandai antara lain oleh adanya hal-hal sebagai berikut :
a.       menjelek-jelekkan anak
b.      terlihat sedang berteriak atau memukul anak untuk suatu persoalan kecil.
c.       Tidak mengetahui data tentang anaknya yang umum diketahui oleh para ibu, misalnya umur anak, waktu imunisasi, penyakit yang pernah diderita anak, memperlihatkan siap tidak tertarik dalam pembicaraan mengenai anak.
d.      Bersikap pesimis terhadap anaknya, dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang tidak menyenangkan mengenai masa depan anak.
(1.6)         Rumah yang kacau dan kotor, yang ditandai oleh kurangnya perhatian terhadap keselamatan anak dan perawatan rumah, misalnya : panci-panci tidak dicuci, rumah disapu, anak-anak dalam keadaan kotor, keadaan rumah yang tidak teratur dan lain-lain.
(1.7)         Ayah yang sering melakukan kejahatan, minum alkohol atau ada gangguan jiwa, yang ditandai antara lain oleh adanya hal-hal sebagai berikut : masuk ke rumah sakit jiwa beberapa kalim sering mabuk, ditangkap polisi, dan lain-lain.
(1.8)         Hubungan suami-isteri yang buruk, yang ditandai antara lain oleh :
a.       orang tua sering bertengkar di depan anak-anaknya.
b.      Kekerasan fisik antara orang tua, suami sering memukul isteri, dan lain-lain. 
(1.9)         Kemiskinan : yang ditandai antara lain oleh adanya hal-hal sebagai berikut :
a.       lingkungan pemukiman yang buruk, misalnya : gubuk buruk berlantai tanah, atap bocor, dan lain-lain.
b.      Alat makan untuk orang dewasa yang tinggal di rumah tersebut tidak mencukup, misalnya : satu cangkir dipakai oleh beberapa orang dewasa.
c.       Perlengkapan tidur tidak mencukupi, misalnya : satu tikar dipakai oleh beberapa orang dewasa.
d.      Mempunyai baju ganti.
(2)   Gizi
Kekurangan gizi dalam makanan menyebabkan pertumbuhan anak terganggu yang akan mempengaruhi perkembangan seluruh dirinya.
Kekurangan gizi tersebut meliputi kekurangan vitamin A, iodium, zat besi dan mineral / vitamin lain.
(3)   Budaya tersebut.
Asuhan dan kebisaan dari suatu masyarakat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Misalnya : kebersihan lingkungan, kesehatan, pendidikan.
(4)   Teman bermain dan sekolah.
Ada tidaknya teman bermain, tempat dan alat bermain, kesempatan pendidikan disekolah, akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
 
3.          Aspek Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
Pencaoauan suatu kemampuan pada setiap anak bisa berbeda-beda, namun demikian ada patokan umur tentang kemampuan apa saja yang perlu dicapai seorang anak pada umur tertentu. Adanya patokan itu dimaksudkan agar anak yang belum mencapai tahap kemampuan tertentu itu perlu dilatih berbagai kemampuan untuk dapat mencapai perkembangan yang optimal. Ada 4 aspek tumbuh kembang yang perlu dibina dalam menghadapi masa depan anak yaitu :
3.1    Perkembangan kemampuan gerak kasar
Yang dimaksud dengan gerakan (motorik) adalah semua gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh.
Perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh, dan perkembangan tersebut erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak.
Pada anak, gerakan ini dapat secara lebih jelas dibedakan antara gerakan kasar dan gerakan halus.
Disebut gerakan kasar, bila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar bagian tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot-otot yang lebih besar.
Contoh :   * Gerakan membalik dari telungkup menjadi telentang atau sebaliknya
                 *  Gerakan berjalan
                 *  Gerakan berlari, dan lain-lain
3.2    Perkembangan kemampuan gerak halus
Disebut gerakan halus, bila hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, karena itu tidak begitu memerlukan tenaga. Gerakan halus ini memerlukan koordinasi yang cermat.
Contoh :   *  gerakan mengambil sesuatu benda dengan hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan.
                 *  gerakan memasukkan benda kecil ke dalam lubang.
                 *  membuat prakarya (menempel, menggunting).
                 *  menari
                 *  menggambar dan lain-lain
Melalui latihan-latihan yang tepat, gerakan kasar dan halus ini dapat ditingkatkan dalam hal kecepatan, keluwesan dan kecermatan, sehingga secara bertahap seorang anak akan bertambah terampil dan mahir melakukan gerakan-gerakan yang diperlukan guna penyesuaian dirinya  
3.3    Perkembangan kemampuan bicara, bahasa dan kecerdasan
Sebagai mahluk sosial, anak akan selalu berada di antara atau bersama orang lain. Agar dicapai saling pengertian maka diperlukan kemampuan berkata-kata atau komunikasi aktif ini belum dapat dilakukan, ia menyatakan perasaan dan keinginannya melalui tangisan dan gerakan.
Meskipun demikian, komunikasi dengan orang lain tetapi dapat terjadi karena ia mengerti ucapan-ucapan orang lain. Kesanggupan mengerti dan melakukan apa yang diperintahkan oleh orang lain disebut sebagai komunikasi pasif. Komunikasi aktif dan komunikasi pasif perlu dikembangkan secara berharap. Anak dilatih untuk mau dan mampu berkomunikasi pasif (anak mampu mengerti orang lain).
Pada balita kemampuan berfikir mula-mula berkembang melalui kelima inderanya,
Misalnya :   - melihat warna-warni
                   - mendengar suara atau bunyi-bunyi
                   - mengenal rasa, dan lain-lain.
Melalui kata-kata yang didengar dan diajarkan, ia mengerti bahwa segala sesuatu itu ada namanya.
Daya fikir dan pengertian mula-mula terbatas pada apa yang nyata (konkrit), yang dapat dilihat dan dipegang atau dijaminkan.
Melalui bermain-main serta latihan yang diberikan orang tua atau orang lain, setahap demi setahap anak akan mengenal, mengeti lingkungannya dan memiliki kemampuan merencanakan persoalan.
Anak akan memiliki bermacam-macam konsep / pengertian seperti :
-          Konsep tentang benda, misal : meja, gelas, bola.
-          Konsep tentang warna, misal : merah biru
-          Konsep tentang manusia, misal : ibu, bapak, kakak
-          Konsep tentang bentuk, misal : bulat, segi tiga dan lain-lain.    
Semua konsep atau pengertian ini kemudian meningkat sehingga memungkinkan anak untuk melakukan pemikiran-pemikiran ke tingkat yang lebih tinggi, lebih abstrak dan lebih majemuk, misalnya : mengerti dan menggunakan konsep sama berbeda, bertambah-berkurang, sebab-akibat dan lain-lain. 
3.4    Perkembangan kemampuan bergaul dan mandiri
Pada awal kehidupannya, seorang anak bergantung pada orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhannya (misal : makanan, pakaian, kesehatan, kasih sayang, pengertian, rasa aman dan kebutuhan akan perangsangan mental, sosial dan emosional).
Kebutuhan-kebutuhan anak berubah dalam jumlah maupun derajat kualitasnya sesuai dengan bertambahnya umur anak. Dengan makin mampunya anak melakukan gerakan motorik (seperti : berdiri, berjalan, dan berbicara), anak terdorong untuk melakukan sendiri berbagai hal yang terdorong untuk bergaul dengan orang lain selain anggota keluarganya sendiri.
Orang tua harus melatih usaha mandiri anak, mula-mula dalam hal menolong kebutuhan anak dan itu sendiri sehari-hari, misalnya : makan, minum, buang air kecil dan besar, berpakaian dan lain-lain.
Kemampuan-kemampuan ini makin ditingkatkan sesuai dengan bertambahnya nusia. Anak perlu berkawan, luas pergaulan perlu dikembangkan pula, dan anak perlu diajar tentang aturan-aturan disiplin, sopan-santun dan sebagainya agar tidak canggung dalam memasuki lingkungan baru.


DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG BALITA

Masa yang paling menentukan dalam proses tumbuh kembang seorang anak ialah masa di dalam kandungan ibunyandan kira-kira dua tahun sesudahnya, pada saat mana sel otak sedang tumbuh dan menyempurnakan diri secara sesat sekali untuk kemudian bertambah lambat sedikit demi sedikit sampai anak berumur lima tahun.
Dapat dimengerti bahwa dalam upaya menurunkan masalah tumbuh kembang seorang anak harus dilakukan upaya pencegahan sendini mungkin, yakni sejak pembuahan, janin di dalam kandungan ibu, pada saat persalinan sampai dengan masa-masa kritis proses tumbuh kembang manusia yaitu di bawah usia lima tahun.
1.          Pengertian deteksi dini tumbuh kembang balita.
Deteksi dini merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor risiko (fisik, biomedik, psikososial) pada balita.

2.          Kegunaan deteksi dini
Kegunaannya adalah untuk mengetahui penyimpangan tumbuh kembang balita secara dini, sehingga upaya pencegahan, upaya stimulasi dan upaya penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang jelas sedini mungkin pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang.
Upaya-upaya tersebut diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tubuh kembang yang optimal.

3.          Pelaksanaan deteksi dini
Upaya deteksi dini dapat dilaksanakan oleh tenaga profesional, kader dan orang tua atau anggota keluarga lainnya yang mempu dan terampil dalam melaksanakan deteksi dini.
Kegiatan ini dapat dilakukan di pusat-pusat pelayanan kesehatan, di posyandu, disekolah-sekolah dan di lingkungan rumah tangga.

4.          Alat untuk melakukan deteksi dini
Alat untuk deteksi dini ini berupa tes skrining yang telah distandardisasi untuk menjaring anak yang mempunyai kelainan dari mereka yang normal.
Tes skrining yang peka, dapat meramalkan keadaan anak dikemudian hari.
Macam-macam tes skrining yang digunakan adalah :
Macam-macam tes skrining yang digunakan adalah :
4.1.1        Berat Badan menurut Umur (BB/U)
4.1.2        Pengukuran Lingkaran Kepala Anak (PLKA)
4.1.3        Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
4.1.4        Kuesioner Perilaku Anak Prasekolah (KPAP)
4.1.5        Tes Daya Lihat (TDL) dan Tes Kesehatan Mata (TKM) Bagi Anak Prasekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar